BERITA

  • PAWAI BUDAYA MEMPERINGATI HARI ULANG TAHUN KE-74 NKRI TAHUN 2019

    PAWAI BUDAYA MEMPERINGATI HARI ULANG TAHUN KE-74 NKRI TAHUN 2019

    Ragam atraksi pawai budaya nusantara menyemarakkan karnaval kemerdekaan dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-74 Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di wilayah Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

    Pesona yang dipancarkan para crew dan anggota sangat memukau hingga membius para penonton. Biusan dari tampilan anak-anak bak vitamin penambah energi. Dari situlah tim kita mulai yakin dan percaya untuk menjadi sang juara tutur Ibu Nina Rohana yang didapuk sebagai panitia pawai budaya nusantara SMK Negeri Rengel.

    Pawai budaya yang ke-74 tahun ini dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Agustus 2019 berlangsung sangat meriah. Kesemarakan itu tak lepas dari antusias para peserta mulai dari kalangan sekolah SMP/Sederajat, SMK/Sederajat, hingga peserta umum yang berjumlah hingga seribu peserta. Pesta rakyat ini membuktikan bahwa wilayah desa tak mau kalah dari kota dalam upaya memeriahkan hari jadi NKRI serta untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

    Pada tahun ini Kecamatan Rengel mengambil tema “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Sementara itu SMK Negeri Rengel mengambil tema khusus yaitu “Menyatukan Nusantara Melalui Kejayaan Kerajaan Majapahit”. Dengan jumlah peserta yang terlibat adalah 100 orang.

    Di sela-sela acara pawai Bpk Joko Sunthi yang menggawangi kontingen SMK N Rengel menyatakan bahwa hal mendasar yang menjadi alasan memilih tema ini adalah luasnya Nusantara tak lepas dari kerajaan dan kepemimpinan di kerajaan Majopahit. Hal ini menunjukkan bahwa luasnya Nusantara tak ada artinya tanpa pengorbanan dan kerja sama. Keterbukaan dan pluralisme menjadi kunci utama mengembalikan Nusantara lebih maju dalam konteks budaya maritim. Adapun majapahit hingga kini dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar yang Berjaya di Nusantara dan berkuasa sejak tahun 1293 M hingga 1500 M.

     Urut-urutan barisan kontingen SMK Negeri Rengel adalah sebagai berikut:

     Barisan terdepan adalah tiga siswa pembawa banner dengan tema umum yakni “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Mereka mengenakan pakaian adat jawa dengan kombinasi warna hitam dipadu dengan selendang merah, sungguh kelihatan anggun mempesona.

    Berikutnya menyusul barisan yang terdiri dari delapan belas siswa pembawa bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni, Sang Saka Merah Putih atau Sang Dwiwarna. Barisan pembawa bendera pusaka berbaris dengan rapi melangkah tegap berirama serta memanggul bendera layaknya pasukan penjaga keutuhan NKRI mereka melambangkan kegigihan dan semangat membangun negara tercinta.

    Dibelakangnya berjalan beriringan dua siswa pembawa banner dengan tema khusus yaitu “Menyatukan Nusantara Melalui Kejayaan Kerajaan Majapahit”.  Sepanjang perjalanan mereka senantiasa tersenyum manis menyapa para penontong.

    Bagian utama karnaval pada barisan awal disuguhkan Raja dan Ratu Kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya dan Ratu Gayatri atau Rajapatni beserta anaknya, Ratu Gayatri atau Rajapatni adalah nama salah satu istri Raden Wijaya raja pertama Majapahit yang menurunkan raja-raja selanjutnya. Raden Wijaya pendiri sekaligus Raja pertama majapahit yang lihai dalam berstrategi. Keagungan dan keindahan busana yang dikenakan raja, ratu beserta anggota keluargannya berpadu dengan keelokan raut muka menambah indahnya suasana membuat decak kagum siapapun yang memandangnya.

    Sementara itu delapan belas selir Raja Kerajaan Majapahit dimasa pemerintahan Prabu Brawijaya mengiringi langkah sang raja dan ratu. Prabu Brawijaya mendapatkan selir untuk dijadikan istri dari negeri Campa yang bernama Dewi Candrawulan yang  memiliki kepribadian dan wajah yang memikat hati setiap lelaki. Di belakang para selir, dayang-dayang cantik jelita berlenggak lenggok dengan langkah gemulai “koyo macan luwe” terlihat ayu rupawan menawan hati siapapun yang melihatnya.

    Setelah rombongan keluarga raja berlalu, disusul rombongan para prajurit anggota angkatan perang atau angkatan bersenjata, pasukan khusus kerajaan Majapahit, yaitu Pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gadjah Mada. Berseragam hijau pupus penuh wibawa menenteng pedang, dan tombak siap untuk membela Negara. Selanjutnya kelompok teatrikal yang terdiri dari 16 siswa  mampu menyemarakan acara dan memikat perhatian para penonton dan dewan juri. Melalui tarian dan gerak teatrikal dipadu dengan nyanyian menyuguhkan lakon “ SUMPAH PALAPA”. Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada  pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit , tahun 1258 Saka (1336 M).  

    Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Butuni, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

    Tepuk tangan dan sorak-sorai menghantarkan kontingen SMK Negeri Rengel meneruskan langkah menghibur penonton memberi pertunjukkan yang mencerdaskan.

    Kepala SMK Negeri Rengel Drs. Basuki, SST.,M.Pd, pada acara terpisah menyampaikan harapannya, melalui pawai budaya nusantara tahun ini kami berharap anak-anak dapat belajar menghargai perjuangan para pendahulunya, menguri-uri budaya yang kita miliki, menghormati keanekaragaman, dan senantiasa menjaga persatuan bangsa. Terima kasih kepada Bpk/ Ibu pembina terimakasih kepada seluruh siswa siswi yang mendukung acara semoga apa yang dikerjakan membawa kemajuan dan prestasi kita semua Aamiin. (dikisahkan JokS)

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks