BERITA

  • KELAMBU SUNYI. Juara III Lomba Seni Sastra Menulis Cerpen

    KELAMBU SUNYI. Juara III Lomba Seni Sastra Menulis Cerpen

    Lima tahun lalu, keluarga Adnan sangat sarat akan kehangatan. Namun semuanya terenggut dalam sekejap. Ayahnya tiba-tiba menyampaikan keinginan untuk berpisah dengan Bundanya. Dan yang membuatnya tak habis pikir Bundanya tampak sama sekali tak keberatan akan keputusan Sang Ayah. Kakaknya pun selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi.

    “Kamu memang pembawa sial! Seharusnya kamu nggak pernah ada, nyesel aku pernah seneng waktu kamu lahir!” ucap Hanafi menggebu gebu

    “Kak! Kenapa kakak selalu nyalahin aku, yang aku sendiri nggak tahu dimana letak kesalahanku” ucap Adnan dengan amarah memuncak.

    “Setelah kamu lahir, ayah sama bunda nggak seharmonis dulu lagi. And see! Kamu lihat sendiri gimana sekarang, kamu itu...Arrggghh. Percuma ngomong sama kamu!” ucap Hanafi pergi ke luar rumah menggunakan mobilnya.

    Adnan yang masih penasaran dengan apa yang diucapkan kakaknya memutuskan untuk mengejar sang kakak menggunakan motornya. Adnan mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata rata.

    “Shit! Kenapa dia cepet banget sih” ucap Adnan menggerutu.

    Pikirannya sudah melayang kemana mana. Tiba tiba ada sebuah truk yang melintas di depannya. Karena terkejut Adnan pun berusaha menghindarinya, namun naas Adnan justru menabrak sebuah mobil dari arah lain. Dengan kecepatan rata rata membuat hantaman yang ditimbulkan sangat keras dan Adnan mengalami luka yang cukup parah. Bahkan Adnan sempat mengalami koma selama dua minngu.

    Ironisnya hal itu tidak merubah keputusan orang tuannya. Orang tuanya resmi berpisah beberapa hari setelah Adnan kecelakaan. Mereka tidak memikiran bagaimana Adnan nanti, yang mereka tahu dengan mencukupi kebutuhannya sudah menggugurkan tanggung jawab mereka. Kakaknya juga memutuskan untuk melanjutkan hidup ke Aussie.

    Setelah menjalani beberapa proses pemulihan, Adnan mengambil keputusan untuk melanjutkan hidupnya di Kota Kembang. Sekarang Adnan masuk di salah satu perguruan tinggi di sana dan sudah menjajaki semester empat.

    “Adnan!” panggil Sherina sahabat karib Adnan.

    “Hey! Tadi pagi diantar bunda?” tanya Adnan setelah Sherina sampai di hadapannya.

    “Iya. Berangkat sekarang?” tanya Sherina.

    “Ayo!” ucap Adnan.

    Kemarin Sherina berkata ingin main ke rumahnya karena sudah lama tidak ke sana. Akhirnya siang ini mereka memustuskan untuk ke rumah Adnan. Mereka memang sudah dekat sejak masih menjadi maba, ditambah lagi mereka satu fakultas, yaitu FMIPA. Bedanya jika Adnan mengambil prodi Astronomi maka Sherina mengambil prodi Kimia.

    “Assalamualaikum Bi Sumi!” salam Sherina memasuki gubuk sederhana milik Adnan.

    “Waalaikumsalam, eh teteh kesini sama siapa?” tanya Bi Sumi saat mengetahui siapa yang datang.

    “Sama Aa’ Bi” ucap Adnan yang baru saja memasuki rumahnya.

    “Oh.. ini mau makan siang dulu atau shalat dulu?” tanya Bi Sumi pada mereka.

    “Shalat aja dulu Bi, habis itu baru makan siang” ucap Adnan memberi keputusan.

    “Kita shalat bareng bareng!” sambung Adnan kembali.

    Mereka menunaikan ibadah shalat dhuhur berjamaah. Setelah menyelesaikan urusan dengan Sang Khaliq, mereka bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan siang bersama. Tapi emang dasarnya Adnan php, sesampainya di dapur ia justru duduk santai di kursi pantry sembari melihat Sherina dan Bi Sumi yang sedang memasak. Tak membutuhkan waktu yang lama, makan siang pun siap dihidangkan.

    “Aa’ itu dibantuin bawa ke meja makan!” ucap Bi Sumi meminta tolong.

    “Iya bantuin, jangan cuma lihat lihat aja!” ucap Sherina berlagak sewot.

    “Ya Allah, galak banget teh bawaannya pengen ngajak tubir aja” gurau Adnan.

    “Sudah sudah, Ayo makan!” lerai Bi Sumi.

    Makan siang pun berlangsung dengan hangat dan diselingi candaan yang dilontarkan oleh Adnan. Setelah membereskan semuanya, terjadi perbincangan ringan antara Adnan dan Sherina.

    “Adnan..” panggil Sherina lembut.

    “Hmmm..” gumam Adnan sambil menyesap teh hangatnya.

    “Kamu masih sering kebayang itu?” tanya Sherina hati hati.

    “Iya! Rasanya tuh sakit banget, susah buat lupainnya” ucap Adnan sendu namun masih diselingi nada candaan.

    “Udah lima tahun loh Ad, kamu yakin?” tanya Sherina meyakinkan.

    “Aku butuh waktu Na!” ucap Adnan dingin.

    Sherina tahu apa yang dirasakan Adnan saat ini. Memang sangat sulit untuk megikhlaskan tanpa tahu apa yang sedang mereka ikhlaskan. Tapi Sherina juga tak ingin Adnan selalu bernaung dalam gelisah keraguan yang semakin mendalam.

    “Maaf, aku antar pulang ya?” tawar Adnan.

    “Ok, Ayo!” ucap Sherina.

    Keesokan harinya.

    “Adnan kamu dimana?” ucap Sherina pada orang di seberang sana.

    “Kamu duluan aja, habis ini aku selesai” jawab orang itu.

    “Ok kalau gitu, Wassalamualaikum” salam Sherina

    “Waalaikumsalam” salam orang itu mengakhiri panggilan Sherina.

    Tadi Sherina menyempatkan untuk menghubungi Adnan guna mengetahui keberadaannya. Sherina keluar gedung fakultasnya dengan bersenandung kecil. Belum sampai ia keluar sepenuhnya bahunya ditabrak oleh seseorang, spontan Sherina menoleh kepada orang tersebut. Betapa terkejutnya ia saat mengetahi siapa yang menabraknya, ia adalah sosok yang selama ini menghilang bagai ditelan bumi dan tiba tiba datang ke permukaan lagi.

    “Maaf maaf, aku tidak sengaja” ucap Hanafi tulus.

    “Ah ya tidak  papa” jawab Sherina tersadar dari lamunannya.

    “Boleh aku tanya sesuatu? Apa kau mengenal Adnan Wirawan?” tanya Hanafi sopan.

    “Ya aku mengenalnya” jawab Sherina sekenanya.

    “Syukurlah, antarkan aku padanya!” pinta Hanafi serius.

    “Kenapa ini seperti boomerang bagiku” batin Sherina menjerit.

    Belum sempat Sherina menjawab pertanyaan Hanafi, tiba tiba ada seseorang yang memanggilnya.

    “Sherina!” panggil Adnan yang hanya berjarak lima meter darinya.

    “Sudah selesai kan? Ayo pulang!” ucap Adnan kembali setelah sampai di hadapan Sherina.

    “Udah kok!” ucap Sherina seadanya.

    “Adnan!” panggil Hanafi menyadarkan mereka akan kehadirannya.

    “Apa anda mengenal saya?” tanya Adnan dingin.

    “Ya tentu saja, kau adikku tentu aku mengenalmu dengan sangat baik” ucap Hanafi berseri seri.

    “Tentu sebaik kau sebagai kakak yang mengabaikanku!” ucap Adnan terkesan lebih dingin.

    “Sepertinya kalian butuh banyak ruang” ucap Sherina setelah sekian lama diam dan hanya  menjadi pendengar.

    “Na!” ucap Adnan ingin menolak.

    “Kalau gitu aku duluan!” ucap Sherina acuh.

    “Ok fine! Kita ke Mota” ucap final Adnan.

    Setelah menyelami jalanan Kota Kembang yang tak terlalu padat, sampailah mereka di Mota.

    “Kalian duduk aja, biar aku yang pesan” ucap Sherina beranjak menuju tempat pemesanan.

    “Bicaralah!” ucap Adnan memecah keheningan diantara ia dan kakaknya.

    “Sebelumnya aku minta maaf padamu. Seharusnya aku tidak egois dengan meletakkan semua kesalahan padamu. Dan juga kita seharusnya saling menguatkan bukan malah membuat tumbang. Aku menyesalinya Ad,  sekali lagi aku minta maaf padamu” ucap Hanafi tulus ingin menebus semua kesalahannya.

    “Aku sudah mendengarnya, tapi  maaf aku  butuh waktu untuk menerimanya” ucap Adnan

    “Kemabalilah ke Aussie, pilihanmu tidak akan menunggumu untuk melangkah maju. Pilihanmu hanya tahu waktu yang kian lama kian berlalu, percayalah!” sambung Adnan setelah memberi jeda.

    “Kau benar pilihanku tak akan sebaik masa lalu yang rela aku tinggalkan. Jaga dirimu baik baik, sesekali aku akan kemari untuk berkunjung” ucap Hanafi menepuk bahu Adnan dan beranjak pergi.

    “Kau sudah selesai?” tanya Sherina yang baru datang sambil menggenggam matcha lattenya.

    “Kau sengaja! Tapi aku berterimakasih untuk itu” ucap Adnan tersenyum.

    “Aku tahu itu” ucap Sherina berlagak sombong.

    “Kau hanya membeli satu hmm?” tanya Adnan yang hanya di jawab kekehan oleh Sherina.

    Hidup adalah sebuah pertempuran, menjadi pemenang atau pecundang tergantug dari cara kita dalam mengendalikan pedang. Mereka baru mendapatkan pedang mereka masing masing, setelah bersusah payah untuk saling mengikhlaskan satu sama lain. Akan jadi apa mereka nanti tak ada yang tahu pasti. Juga tak menutup kemugkinan semuanya sekaligus terjadi tanpa disadari. Mengikhlaskan semua yang telah terjadi adalah cara yang paling ampuh untuk mengobati penyakit hati.

    TAMAT

    Nama: Shafa Mawah Nurslsabila

    Kelas: X TB 2

    Tema: Ikhlas

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks