BERITA

  • SENYUMAN TERAKHIR! Juara II Lomba seni sastra menulis cerpen

    SENYUMAN TERAKHIR! Juara II Lomba seni sastra menulis cerpen

    Cit...Cit...Cuit...Cuit

    Suara burung berkicau menghiasi langit biru yang cerah mengawali pagi yang indah nan damai. Ditambah suara angin yang lembut menggoyangkan pohon bonsai yang tertanam rapi di halaman sebuah rumah megah di tengah kota. Di balik rumah tersebut, terlihat seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun sedang menulis sesuatu di buku diary-nya.

     
     

    30 Desember 2018                                                                           **Lucky**

                    Mengapa Kau memberiku derita seperti ini...Aku sudah tak kuat lagi menahannya...Telah lama rasa sakit ini ku simpan sendirian, demi melihat keluarga dan teman-temanku selalu bahagia...Namun, aku sudah tidak kuat lagi menahan kanker otak yang telah menggerogotiku setahun yang lalu...Aku ingin di saat-saat terakhirku ini membuat mereka selalu bahagia, meski aku harus menahan rasa sakit ini sendirian...Aku...

     

                      Tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerangnya. Sakit kepala yang teramat akibat kanker otak yang ia derita. Ia pun kemudian terkulai lemas di atas kasurnya. Tak berdaya...Sendirian.

                Sementara itu, di ruang makan Bu Zahra sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.

                “ Rendy...Nathan...Tolong panggilkan kak Lucky di atas buat sarapan...”,perintah bu Zahra.

                “ Okey, ma...”,ucap mereka serentak.

                Bu Zahra adalah ibu dari Lucky, sedangkan Rendy dan Nathan adalah anak kembar yang juga merupakan adik Lucky. Mereka sebenarnya tinggal berempat, tetapi saat ini Pak adi, ayah Lucky sedang ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

                            “  Kak Lucky...Kak Lucky...Ayo cepetan keluar...Dah ditungguin mama tuh di bawah buat sarapan...”, teriak Nathan dari luar kamar.

     Sementara itu, Lucky yang tadinya pingsan sudah mulai sadarkan diri dari pingsannya.

     Lucky.

                “  Iya sebentar, kaka ganti baju dulu ya...”, ujar Lucky.

    “ Cepetan lho kak...Nanti kalo kakak nggak turun turun jatah makan kakak akan kami habiskan lho...”, ucap Rendy bergurau

                ‘ Iya...Iya...Udah kalian ke sana dulu gih...”, ucap Lucky. . Mereka pun kembali ke ruang makan.

                Di dalam, sebenarnya Lucky tidak sedang ganti baju, tetapi ia sedang bercermin memandangi wajahnya yang pucat. Sebenarnya selama inI ia menyembunyikan penyakitnya itu dari keluarganya, ia nggak mau kalau mereka bersedih. Ia ingin selalu membuat mereka bahagia di saat-saat terakhirnya.

                “ Wajahku kok pucat amat sih...”, ucap Lucky sambil memegangi wajahnya.

                “ Oh ya aku punya ide...Gimana kalau aku pake aja bedak mama yang pernah aku pakai dulu untuk menyembunyikan wajah ini...”, ujar Lucky kegirangan. Ia pun kemudian mencari bedak tersebut dan segera memakainya. Setelah dirasa wajahnya sudah nggak pucat lagi, ia pun keluar dari kamarnya untuk sarapan.

     Di ruang makan...

    “  Pagi, ma...”, sapa Lucky kepada mamanya.

    “ Kakak ini kok lama amat sih...Perut kami udah keroncongan nih nungguin kakak...”, ucap Rendy kesal.

    “ Iya maaf maaf...”, ucap Lucky sambil mengacak-acak rambut adiknya tersebut.

    “ Iihhh...Kakak ngapain sih...Rusak nih tatanan rambut Rendy yang keren...”, ucap Rendy sambil menyingkirkan tangan Lucky dari kepalanya.

    “ Udah...Udah...Katanya tadi udah keroncongan kok malah bertengkar...”, tegur Bu Zahra melihat kelakuan anak-anaknya

    Lucky pun kemudian segera duduk di samping mamanya dan mereka pun memulai sarapannya.

    Setelah sarapan selesai, mereka pun kembali ke rutinitas biasa, tak terkecuali Lucky. Hari ini dia mempunyai agenda belajar kelompok yang kebetulan berada di rumahnya. Sedangkan Bu Zahra mau pergi ke rumah temannya untuk acara arisan dan adik-adik Lucky memilih untuk bermain badminton di lapangan samping rumah.

    Pukul 10.00...

    “ Assalamu’alaikum...Lucky...oh Lucky..”, teriak Hammy, Fahri, Fauzan, Rayyan dan raihan bersamaan. Mereka adalah sahabat Lucky di sekolah.

    “ Iya sebentar...”, teriak Lucky dari dalam rumah. Lucky pun kemudian segera menuju pintu dan membukanya.

                “ Eh kalian udah datang. Ayo masuk...”, ucap Lucky sambil menyunggingkan senyum manisnya.

    Mereka semua pun kemudian masuk ke dalam rumah Lucky dan memulai belajar kelompoknya. Mereka berdiskusi bersama sambil bercanda gurau.

    Satu jam kemudian...

    “ Aduuhhh...”, Lucky berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya yang sontak membuat teman-temannya kaget.

    “ Kamu kenapa Lucky...”, tanya hammy.

    “ Apa kamu sakit...”, sahut Raihan.

    “ Aku nggak apa-apa kok, mungkin cuma sakit kepala biasa. Aku ke kamar dulu ya untuk mengambil buku catatan yang tertinggal di kamar.”, ucap Lucky membuat alasan. Ia nggak mau teman-temannya juga tau tentang penyakitnya. Kemudian ia pun pergi ke kamarnya.

    Tidak diduga, sebenarnya Rayyan telah memperhatikan tingkah laku aneh sahabatnya itu. Rayyan adalah sahbat Lucky sejak kecil, makanya ia mengetahui kalau Lucky sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ia pun diam-diam membuntuti Lucky menuju kamarnya.

    Setibanya di kamar Lucky...

    “ Aduuhhh...Kenapa sakit ini kembali kambuh Ya Allah...Aku sudah tidak kuat menahannya...”, rintih Lucky dan ia pun langsung jatuh  terbaring di kasurnya, namun tetap dalam keadaan sadar.

    Rayyan yang sedari tadi ada di luar kamar Lucky terkejut setelah mendengar rintihan Lucky. Ia pun langsung masuk ke kamar Lucky tanpa permisi.

    “ Lucky...”, teriak rayyan yang sontak membuat Lucky terkejut. Lucky yang mengetahui kalau Rayyan ada di kamarnya pun langsung berusaha duduk kembali. Meskipun ia rasa sakit itu masih mengganggunya.

    “ Ka..kamu ngapain a..ada di sini...”, tanya Lucky tergagap.

    “ Apa kamu sakit Lucky...Kenapa kau nggak cerita kepadaku kalau kamu sakit...Aku kan sahabatmu dari kecil...Apa...” ucap Rayyan yang langsung terhenti karena Lucky meletakkan jarinya ke mulutnya.

    “ Udah deh nggak usah cerewet. Aku tuh nggak apa-apa...”, ucap Lucky berbohong.

    “ Kamu itu nggak bisa berbohong lagi sama aku...Liat tuh wajah kamu pucat banget. Kamu sakit ya. Coba cerita dong sama aku...”, ucap Rayyan yang membuat Lucky tidak bisa lagi menyembunyikan tentang penyakitnya.

    “ Iya deh aku cerita...Sebenarnya aku tuh menderita kanker otak sejak setahun lalu. Aku nggak mau cerita kalian karena aku nggak mau kalian sedih dan khawatir. Aku ingin di saat-saat terakhirku, kalian semua selalu bahagia. Kalau kalian bersedih itu akan menambah rasa sakit di tubuhku ini...”, ucap Lucky. Tak terasa air matanya pun menetes.

    “ Kamu memang sahabat terbaikku...Kau rela menahan rasa sakit itu demi melihat orang lain bahagia, meskipun kau harus menahan rasa sakit itu sendirian. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu...”,ucap Rayyan seraya memeluk Lucky. Ia pun tak bisa lagi menahan rasa haru itu dan akhirnya ia pun menangis.

    Sementara itu, hammy merasa curiga dengan tingkah laku Lucky yang aneh.

    “ Pasti Lucky menyembunyikan sesuatu dari kita”, ucap Hammy.

    “ Udah deh, kamu jangan berfikiran yang aneh-aneh...Mungkin aja Lucky sedang tidak mau cerita kepada kita dan kita nggak boleh memaksanya”, ucap Fahri.

    “ Hey teman-teman...aku mau menyampaikan hal penting kepada kalian...”, teriak Rayyan tiba-tiba dari atas tangga.

    “ Ada apa Ray...”, sahut Raihan.

    Sementara itu, Lucky yang masih ada di kamarnya sontak terkejut mendengar ucapan Rayyan tersebut dan langsung menghampirinya.

    “ Kamu itu apa-apaan sih...Kan aku udah bilang, aku nggak mau mereka tau tentang penyakitku. Kalau mereka sedih, maka sakitku pun akan bertambah. Kamu mau aku mati sekarang...”, ucap Lucky kesal sambil memegangi kerah baju Rayyan.

    “ Tapi mereka harus tau tentang ini...”, ucap Rayyan menyangkal.

    “ Nggak usah tapi-tapian, aku ingin kau berjanji untuk tidak memberitahu teman-teman soal penyakitku ini. Janji...”, ucap Lucky sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

    “ Iya deh, aku janji”, ucap Rayyan pasrah.

     “ Hey kalian ngapain bisik-bisik di atas...Cepetan turun gih”, teriak Fauzan dari bawah.

    “ Oh ya...sorry..sorry...”, ucap Lucky dan Rayyan bersamaan dan mereka pun segera menuju ke bawah.

    “ Kamu tadi mau menyampaikan apa Ray...”, tanya Fahri penasaran.

    “ nggak hal yang penting kok. Tadi aku cuma mau memberitahu kalian kalau aku tuh tadi melihat kucing yang sangat gemuk di atas”, ucap Rayyan sambil menyeringai tak berdosa.

    “ Dasar anak aneh”, ucap Fauzan sinis.

    “ Bener deh dugaanku kalau mereka berdua menyembunyikan sesuatu”, ucap Hammy dalam hati...

    Setengah jam kemudian, tepatnya pukul 15.00, acara belajar kelompok di rumah Lucky pun selesai. Teman-teman Lucky mulai berpamitan.

    “ Kami pulang dulu ya Lucky...Sampai jumpa besok...”, ucap Fahri, Raihan, Hammy, Rayyan dan Fauzan bersamaan.

    “Jangan lupa juga menjaga kesehatanmu ya...”, bisik Rayyan di telinga Lucky.Mereka semua pun kemudian pulang ke rumah masing-masing.

    Malam pun tiba...

    Di ruang keluarga, Bu Zahra, Rendy dan Nathan sedang menonton tv bersama. Tiba-tiba, terdengar suara jeritan dari kamar Lucky yang langsung membuat Bu Zahra, Rendy dan Nathan terkejut. Mereka khawatir telah terjadi sesuatu pada Lucky. Mereka pun segera berlari menuju ke kamar Lucky.

    Dan, alangkah terkejutnya mereka saat melihat Lucky terkulai lemah di lantai dengan hidung yang berdarah. Mereka pun panik dan segera menelpon ambulans.

    Tak lama kemudian, ambulans pun datang dan Lucky pun segera di bawa ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Lucky langsung dibawa ke IGD untuk diperika.

    “ Kakak kenapa ma...apa kakak akan baik-baik saja...”, tanya Rendy dan Nathan sambil menangis.

    “ Mama juga nggak tahu. Cepat telpon papa dan temen-temen kakakmu, kabari mereka kalau Lucky sekarng ada di rumah sakit Graha Bakti.

    Tidak lama kemudian, Pak Adi dan teman-teman Lucky datang.

    “ Gimana keadaan anak kita ma...”, tanya Pak Adi cemas.

    “ Bagaimana ini bisa terjadi tante...”, tanya Hammy.

    Kemudian tiba-tiba dokter pun datang membawa kabar kurang mengenakkan.

    “ Siapa di sini yang keluarganya pasien bernama Lucky...”, tanya dokter.

    “ Saya dok, gimana keadaan anak saya...?”, jawab ibu Lucky.

    “ Sebelumnya kami minta maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anak ibu. Dia telah menderita kaker otak stadium 4 dan kanker tersebut telah menjalar dan menginfeksi seluruh bagian tubuhnya  ditambah tidak adanya perawatan yang intensif, hal itulah yang menyebabkan nyawa anak ibu tidak tertolong. Kami benar-benar minta maaf.”, ucap dokter.

    “ innalillahi wa inna ilaihi raji’un...”, ucap mereka serentak diiringi isak tangis yang pecah.

    Mereka nggak pernah tau kalau Lucky telah menderita kanker otak dan itulah yang membuat mereka menyesal. Sebelum meninggal, ternyata Lucky telah meninggalkan sepucuk surat di kamarnya yang berisi ucapan minta maaf karena ia tidak pernah memberitahu mereka tentang penyakitnya dan ia berpesan kepada keluarga dan teman-temannya agar selalu bahagia meskipun ia sudah tidak ada lagi di samping mereka.

     

    NAMA : RONA AFIANITA

    KELAS : XI AKUNTANSI 2

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks